Tentang Waktu

Dia berputar
Bergulung
Melintas
Melesat lebih cepat
Dari anak panah
Bahkan kilat

Dia membawa apa saja
Yang ada dalam setiap
Sorak gembira
Atau sunyinya luka
……..
Dalam segala
Persimpangan angan
Capaian cita-cita
Bahkan kebodohan
Keserakahan
Ketiadatahuan
Kepalsuan
Keacuhan
Penyesalan
Manusia

Dia bukan milik sesiapa
Tabir lah yang dia punya
Membungkus rapi segala
Tentang tanya
Akan siapa
Seharusnya bagaimana
Lantas untuk siapa

Dia selalu berlalu
Karena tidak semuanya
Perlu kamu tahu

Jangan pernah

Pernah antri kan? Pernah dong.
Bukan, ini bukan tentang perilaku budaya antri yang masih menyebalkan; juga bukan tentang saling serobot di antrian, atau mengeksploitasi anak agar bisa ‘menyusup’ di antrian.

Situasinya begini. Anda sudah dalam antrian di gerbang pintu tol untuk membayar tarif tol. Beberapa mobil ada di depan anda.
Antriannya tertib, tidak ada yang berusaha saling menyela. Konsep FIFO berlaku di sini. Aman dong.

Semakin pendek antrian tentu akan relatif lebih cepat mendapat giliran membayar tol. Tapi, saran saya, janganlah terlalu berharap akan hal tersebut. Banyak sekali faktor yang suka ataupun tidak suka dapat mempengaruhi kesesuaian harapan dengan kenyataan.
Nah, pengemudi mobil di depan anda ternyata belum menyiapkan uang untuk membayar. Butuh beberapa detik untuk menguji kesabaran anda.
Astaga, petugasnya sekarang yang lelet. Lama memproses pembayarannya, harus menyiapkan uang kembalian pula.
Udah dapat kembalian dong… Tapi kenapa cuy gak segera jalan mobilnya. Yah begitulah. Ada saja alasan untuk harus bersabar.

Moral of the story
Jangan pernah berharap segala sesuatu dapat berjalan dengan normal, sesuai dengan harapan.
Ingatlah, faktor keberuntungan tidak hanya berlaku dalam anda menentukan jalur antrian mana yang anda ambil. Nyasar ke blog ini pun!
Setidaknya belajar bersabar dalam meresponse segala hal; dan tidak harus membandingkan dengan keberuntungan pihak lain.

Catatan Pagi

Hari masih pagi, sekitar jam setengah tujuh. Kereta melintas di tengah-tengah pemakaman Tanah Kusir.

Cuaca cerah, matahari masih terasa sejuk. Embun-embun masih terlihat bening di rerumputan.

Barisan makam di kiri dan kanan lintasan KRL.  Hening, syahdu. Semoga mereka semua damai di sana.

Karena apa?

Mengapa semua orang di jalan selalu salah?

Gak nyalip, salah. Nyalip terus2an juga salah, Cepat, salah; pelan juga salah. Pakai kendaraan jelek, “gitu aja sok2an”, Pake fine car, “sombonnnnnggg..caper”.

Mengapa? Kenapa?

*asyik, … gw donk yang bener*

Tiket

Pencarian menggunakan google dengan kata kunci ‘tiket’ menghasilkan daftar temuan yang berkaitan dengan tiket pesawat dan transportasi lainnya, disusul dengan tiket hiburan atau wisata. Mungkin hampir semua orang tahu, bahwa tiket merupakan alat yang dapat digunakan sebagai tanda untuk mendapatkan akses atau ijin memasuki suatu tempat/pertunjukan. Kata ‘tiket’ merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yakni ‘ticket’ yang memiliki arti yang kurang lebih sama.

Cukup, cukup untuk pelajaran bahasa hari ini. 🙂

Continue reading “Tiket”

Kemuning Global Warming

Beberapa orang yang seusia saya mungkin pernah merasakan nikmatnya main ketapel. Kayu yang dipakai sebagai bahan ketapel biasanya diambil dari jenis kayu yang kuat. Kalau dulu sih saya menggunakan kayu kemuning, sebagai bahan (pegangan) ketapel, meskipun saya harus mencarinya sampai ke kebun-kebun kosong. Puas rasanya ketika berhasil menemukan sebuah cabang yang kuat dan berbentuk menyerupai huruf ‘Y’.

Continue reading “Kemuning Global Warming”