Curhat akhir tahun 2007

Tahun 2007, sebentar lagi berakhir, meninggalkan berbagai kenangan, kenyataan, prestasi dan cita-cita yang belum tercapai. (Ciyeeeh..)

Sepertinya waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan kita semua di sini. Mungkin seperti iklan sebuah album lagu (kaset/cd) di tivi. Baru terdengar sepintas sebuah lagu, langsung saja &^#%$@* (di-fast forward maksudnya) ke lagu berikutnya. Demikian seterusnya.

Eh ngomong-ngomong soal iklan, akhir tahun ini banyak sekali iklan layanan masyarakat berkeliaran di tivi. Hampir semuanya iklan milik pemerintah/pemda. Iklan dari departemen ini, dirjen itu, suku dinas nganu, pemda sono. Ada dua kemungkinan kenapa iklan tersebut muncul bersama-sama alias berjamaah. Yakni karena kebetulan, atau memang sekedar mengingatkan kita bahwa tahun (anggaran) sekarang akan segera berakhir.

Mungkin sudah menjadi tren bahwa menjelang berakhirnya hitungan tahun, di mana-mana sepertinya hendak mengejar setoran; atau ingin menorehkan ‘prestasi’ menjelang berakhirnya waktu. Ya semacam cuci gudang aka clearance sale, atau samting laik det. Di akhir-akhir bulan ini, sebagai pekerja alias kuli, saya juga ikut-ikutan menjadi sibuk. Ibarat tukang masak, banyak sekali pesanan akhir tahun ini. Sepertinya semuanya ingin menggelar resepsi yang besar dan meriah.

Dalam bulan Desember ini saya terlibat dalam (*sebentar saya hitung) .. enam project yang harus live bersamaan sebelum akhir tahun. Repotnya, di sini enggak ada yang namanya Project Management. Kalau ada mungkin nggak akan ada ya enam project jalan bersamaan, hehehe.

Pada akhirnya, itu semua mengingatkan saya, bahwa tahun 2007 ini memang akan segera berakhir. Dan sekarang saatnyalah saya membuat catatan kaki tentang apa yang saya temui di tahun ini.

Bulan January, saya harus disibukkan dengan implementasi sistem pembayaran pajak online versi baru aka MPN, yang sepertinya juga proyek kejar tayang yang harus live tepat di awal tahun (2 januari). Akibat sepanjang bulan mesti mithesi kutu (debugging) yang ada di sini. Kutu di kantor pajak malah sepertinya lebih banyak lagi.

Hari-hari berikutnya adalah seperti biasa, di mana saya harus berterima kasih kepada kota Jakarta yang tidak bosan memberi kemacetan di jalan, sewaktu berangkat dan pulan kerja. Semua dan waktu berlalu begitu saja.

Yang sedikit special adalah event wisuda saya di bulan februari, yang sepertinya menggenapkan cita-cita dan jerih payah saya selama 2 tahun terakhir untuk menyelesaikan studi S2. Masih teringat begitu sibuk dan capeknya harus bekerja dan pulang larut-larut malam, atau begadang menyelesaikan tugas kuliah. Pada akhirnya saya banyak berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan, kepada keluarga dan kepada orang-orang yang telah banyak membantu serta memberikan inspirasi kepada saya selama kuliah di Pelita Harapan.

Highlight lainnya yang ada di tahun ini adalah mempersiapkan Ammar masuk sekolah (SD) dan Salma masuk TK. Yang terasa berat adalah ketika Ammar mesti memilih sekolah. Ternyata susah untuk masuk SD yang sesuai dengan impian, apalagi usia Ammar memang berada di posisi syarat minimal untuk masuk SD. Usia Ammar waktu itu memang belum 6 tahun. Moral yang saya dapat, setelah saya bersusah payah memasukkan ke SD yang terbaik, favorit, unggulan, berkualitas (dan gagal karena –saya yakin—faktor umur), adalah saya mengalami dan sedikit banyak dapat memahami tentang kondisi dunia pendidikan kita. Yang itu semua saya pikir sungguh jauh dari kata ideal. Hal ini semakin menguatkan cita-cita saya, yakni jika saya punya kekuatan, resources dan kesempatan, serta jika Tuhan menghendaki, saya ingin mempunyai dan mengelola sekolah menjadi sekolah yang maju, dan dapat memberikan sumbangsih yang nyata bagi murid-murid, (dan yang terpenting) juga bagi guru-guru dan pengelolanya.

Sebentar… *tarik nafas…. Kok curhatnya jadi curhat banget dan idealis sekali ya. Hehehe. Tapi memang begitulah yang terjadi di tahun 2007.

Hari-hari berikutnya, sepertinya seperti hari-hari biasa, bahkan kadang seperti mengulang hari. Kadang membosankan, kadang seperti dicuci-otak sehingga saya kadang menjadi *blank dan seperti robot semata yang menjalani hari-hari di kesibukan kerja, di sebuah kantor yang dipenuhi orang-orang aneh (Ya, saya memang aneh!).

Tahun 2007 ini juga, tahun di mana akhirnya saya dapat memiliki (baca: hutang) sebuah mobil baru untuk keluarga yang sangat membantu kalau bepergian atau belanja bersama keluarga. Saya masih ingat bagaimana repotnya membawa belanja bulanan dengan naik motor berpenumpang satu keluarga (4 orang maksudnya).

Begitulah sedikit catatan yang terjadi di tahun ini. Sisanya hanya berupa fragment-fragment kecil, yang kadang saya lupa-ingat atas apa yang terjadi di tahun itu. Ya, waktu memang serasa demikian cepat, tapi curhat ini terasa begitu panjang dan membosankan. Sampai jumpa.

5 Replies to “Curhat akhir tahun 2007”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *