Kemuning Global Warming

Beberapa orang yang seusia saya mungkin pernah merasakan nikmatnya main ketapel. Kayu yang dipakai sebagai bahan ketapel biasanya diambil dari jenis kayu yang kuat. Kalau dulu sih saya menggunakan kayu kemuning, sebagai bahan (pegangan) ketapel, meskipun saya harus mencarinya sampai ke kebun-kebun kosong. Puas rasanya ketika berhasil menemukan sebuah cabang yang kuat dan berbentuk menyerupai huruf ‘Y’.

Tadi sore, perasaan serupa sepertinya muncul lagi. Ketika di taman kota BSD, mata saya secara tidak sengaja membaca sebuah papan nama pohon “Kemuning”.  Wah sepertinya saya hampir lupa dengan nama pohon tersebut. Dan kenangan bersama kemuning kembali muncul, mengingatkan ke masa kecil dulu.

Memang jaman telah berubah, bahkan mungkin termasuk budaya dan orang-orangnya, juga mengalami perubahan.  Saya perhatikan anak saya, Ammar dan Salma terlalu asyik menikmati suasana baru dan arena permainan, ketika saya mengamati beberapa jenis pohon yang ada di taman kota tersebut.  Mereka tentu tidak mengenal kemuning, melinjo, angsana, flamboyan, karena mereka tidak seperti ayahnya yang ndeso, yang hidup lebih dekat dan bermain dengan alam, bukan dengan games komputer atau HP.

Keberadaan tempat-tempat seperti Taman Kota BSD tersebut, menurut saya sangatlah dibutuhkan. Selain sebagai ‘paru-paru’ kota, juga sebagai tempat bersantai dan belajar bagi siapa saja yang ingin lebih dekat dengan alam (back to nature). Apalagi dengan semakin kencangnya issue global warming (pemanasan global) yang begitu mengkhawatirkan. Al Gore, dalam sebuah acara di HBO dan juga di acara Oprah Winfrey mendeskripsikan dengan detail akan ancaman yang ditimbulkan akibat pemanasan global tersebut. Saya yakin dengan melestarikan dan memperbanyak areal hijau, diharapkan dapat mengurangi efek pemanasan global tersebut.

Btw, dari hasil jalan sore di taman kota BSD, saya menyimpan dua hal kegundahan, kalau tidak mau disebut sebagai kekecewaan.

  • Pertama, selain taman tersebut dipenuhi dengan berbagai macam tanaman (bahkan mungkin ada yang termasuk langka), ternyata sore tadi, sekitar jam 4 sore, taman tersebut juga ditumbuhi berpasang-pasang remaja yang asyoi pacaran. Ya, ya, di manapun dunia serasa milik berdua. Saya terpaksa harus mengalihkan perhatian (bukan karena saya pengen, hehehe), yakni mengalihkan perhatian agar anak saya tidak menangkap image tersebut.
  • Kedua, berkaitan dengan tanam-menanam, kenapa pohon mangga saya tidak cepat tumbuh besar; bukannya pohonnya yang tumbuh, tapi malahan semut dan rumput yang mengerubung. Lha gitu kok ngomongin Global Warming segala. Oalaahh..Ngoco le .. ngoco..

Biar tidak dibilang basbang, omong omdo doang, berikut adalah beberapa skrinsut di taman kota BSD, dan sedikit pameran foto bunga kesayangan. Monggo.

1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  11  12  13  14  15

2 Replies to “Kemuning Global Warming”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *