Sukanya kok bereksplotasi …

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang antri untuk membayar sepatu Ammar di kasir sebuah swalayan, saya menemukan sebuah pengalaman klasik dan dejavu, yaitu tentang tindakan yang tidak menyenangkan akibat adanya usaha penyerobotan (atau apalah namanya) posisi / urutan antri. (puih panjang banget kalimat pembukanya :D)

Sebenarnya saya malas menulis pengalaman ini, dan lagi kejadiannya sudah lama. Entah mengapa saya sering teringat kejadian itu, meskipun saya sering kali menjumpai keadaan sejenis itu. Lagi pula sepertinya peristiwa itu tidak penting. Buat apa ditulis? Alter ego saya kadang mengatakan, buat apa menulis sesuatu yang tidak penting di blog? Demikian, sehingga akhirnya tulisan ini baru turun cetak sekarang. (Heheh sebuah alasan bagi orang yang malas mengupdate isi blog)

Tapi begitulah, saya akui memang peristiwa tidak tertib di antrian selalu sangat sering dengan mudah dapat dijumpai. Semua orang juga pernah menikmati fenomena ini. Terhadap pengalaman tersebut, setiap orang tentu mempunyai pandangan dan reaksi masing-masing. Ada yang moderat, toleran, nggak mau disela, dan sebagainya. Yang moody juga banyak tentunya.

Ketika saya sedang antri waktu itu, saya harus menunggu giliran ketika teller sedang melayani nasabah. Hmm, lumayan lama juga, karena banyak belanjaannya. Tapi yo wis, sing sabaaar antrinya, lha wong belum waktunya dilayani, ya harus nunggu, mau gimana lagi. Sampai suatu saat, saya menangkap ada gelagat yang tidak normal di belakang antrian saya. Ada suara-suara sedikit gaduh, dari seorang wanita. “Sana, sana … iya maju”. Hmm ternyata seorang ibu-ibu memanfaatkan anaknya untuk memotong urutan antri agar cepat mendapat giliran dilayani. Seorang anak perempuan kecil seusia anak kelas 4 SD, berdiri di sela antrian saya.

Seperti salah satu hukum Newton (keberapa ya?), akibat aksi tersebut saya meresponsenya dengan reaksi. (Maksudnya hukum aksi-reaksi.) Reaksi paling awal adalah otak saya menerima image yang ditangkap mata saya dan memprosesnya (halah!). Sepertinya icon hourglass berputar-putar agak lama menyesuaikan prosessor otak saya yang udah tuwir plus OS yang terkontaminasi virus-virus (yang sebenarnya sudah obsolete, tapi nga pernah dibasmi).

Akhirnya satu persatu opsi yang harus dipilih bermunculan. Biarkan saja lah, ngalah aja, cuma disela satu ini. Lagian sama anak kecil. Ngalah deh… Engga tau siapa yang mengatakan seperti itu, dan saya pikir ada benarnya. Mengalahlah untuk sesuatu yang nga penting, pasti dirimu akan menjadi orang yang sabar dan disayang Tuhan. (Wah suara siapa tuh, bawa-bawa nama Tuhan untuk urusan yang sederhana).

Tapi tiba-tiba dilawan dengan suara yang lain. Ah ini sebuah eksploitasi terhadap keadaan, eksploitasi terhadap anak, social exploitation. Jangan biarkan hal tersebut. Dengan membiarkannya maka mereka (anak dan ortu-nya) dapat memperoleh kesan bahwa tindakan mereka setidaknya wajar, dan itu dapat berakibat jelek terhadap si-anak. Ya.. ini dapat menjadikan pelajaran (jelek) bagi si-anak, bahwa tindakan menyerobot urutan antri (lebih ekstrim lagi, menyerobot hak orang lain) adalah tindakan yang wajar, atau setidaknya dimaklumi, dimaafkan, dan dibolehkan.
Kamu tahu ngga, bad education itu seperti halnya kamu mengajarkan black magic, santet dan sejenisnya. (Bwahaha, emangnya saya punya ilmu santet?)

Apa kata dunia …. kalau kamu membiarkan hal ini. Ayoo ciptakan kehidupan dunia yang lebih tertib, dan mulailah dari hal-hal yang kecil. Nah sekaranglah giliran kamu untuk berpartisipasi menunaikan tugas mulia itu.

Aaahhhh.. brisik amat sih, egoku yang lain sepertinya mulai bersuara. Masa’ hal seperti itu dibawa-bawa ke urusan santet, dunia yang damai dan segala macamnya. Hiperbolis, bombastis…

Belum selesai itu semua, tiba saatnya saya yang akan mendapatkan giliran transaksi di kasir, karena pengantri di depan saya sudah selesai dilayani. Ketika hendak memberikan struk pembelian ke kasir, tiba-tiba pengantri gadungan tersebut, juga mau menyerobot. Dan akhirnya tangan saya bertindak menyingkirkan tangan anak itu. Cepat sekali, tidak rumit-rumit amat, instan dan seketika (seperti rayuan aplikasi kartu kredit..hehe), sambil mengatakan,”(sana) Antri di belakang…”.

Saya tidak tahu ego mana yang mengarahkan saya melakukan demikian. Sambil membayar pikiran saya kembali menganalisis ini-itu berkaitan dengan tindakan saya. Saya tidak tahu apakah hal itu saya lakukan karena berlindung dibalik dalih-dalih mulia, analisis yang bombastis, atau karena sekedar tidak mau kalah terhadap sesuatu meskipun dalam urusan yang remeh.

Entahlah, tapi lagi-lagi ada justifikasi klasik seperti lagu Candil ‘Serius’. Ya, saya juga manusia…

Beberapa hari yang lalu, ketika antri di Teratai (maksudnya kantin masakan padang), ada saja yang mencoba menyerobot antrian. Huh, enak aja! Seperti biasa, pelakunya melakukan exploitasi. Kali ini eksploitasi sexual (ups..). Maksudnya, kali ini pelakunya cewek-cewek centil yang banyak nyolot. Masih jauh dari giliran, udah ribut, pake rendang lah, nasinya jangan banyak2 (jaim nih yee).. Lu pikir lu siapa hah? HAH? Emangnya cowok (cakep kayak gini) ngga boleh lapar…? xixxiiii

Begitulah.

4 Replies to “Sukanya kok bereksplotasi …”

  1. Saya pernah ngalami itu, persis dengan anak kecil segala. Saya bilang ke orang tuanya. “Kalau anda mau duluan, lebih baik bilang. Saya ga keberatan, tapi kalau dengan cara menyerobot, anda mendidik anak dengan cara buruk.”

    Eh…tu orang malah sewot hahahaha
    Bener-bener sudah kena kontaminasi otaknya 😛

  2. gue pernah dua kali diserobot antrian waktu lagi bayar di indomaret
    walaupun yang nyerobot cuma belanja satu barang, tapi tetep bikin kesel

    reaksi kasir dari kejadian itu beda
    yang pertama, dia nyuruh yang nyerobot antri di belakang gue
    yang kedua, dia menanyakan terlebih dulu ke gue, bersedia atau tidak didahului sama yang nyerobot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *